Majapahit umumnya dipahami sebagai kerajaan agraris yang berpusat di pedalaman Jawa Timur. Namun berbagai sumber sejarah dan temuan arkeologis menunjukkan bahwa Majapahit juga berkembang sebagai kekuatan maritim yang terhubung dengan jaringan perdagangan Asia pada abad ke-14 hingga ke-15 Masehi. Salah satu bukti material penting dari kehidupan masyarakat Majapahit adalah ribuan artefak terakota yang ditemukan di kawasan Trowulan, bekas ibu kota kerajaan. Artikel ini bertujuan menganalisis terakota sebagai arsip visual dan material yang merekam kehidupan sosial, ekonomi, urban, dan maritim masyarakat Majapahit. Melalui pendekatan arkeologi budaya dan kajian ikonografi, penelitian ini mengkaji figurin manusia, figurin hewan, artefak domestik, celengan, elemen arsitektur, serta bukti produksi kerajinan. Hasil kajian menunjukkan bahwa terakota tidak hanya berfungsi sebagai benda pakai atau karya seni, tetapi juga merepresentasikan keberagaman sosial, keberadaan masyarakat multietnis, perkembangan kehidupan urban, praktik ekonomi berbasis monetisasi, serta keterhubungan Majapahit dengan jaringan perdagangan maritim Nusantara dan Asia. Dengan demikian, terakota Trowulan dapat dipahami sebagai arsip material yang merekam transformasi Majapahit menjadi peradaban urban-maritim yang kosmopolitan pada puncak kejayaannya.
Kata kunci: Majapahit, Trowulan, terakota, arkeologi budaya, maritim, perdagangan.